PENILAIAN KINERJA GURU DI SMPN 6 KENDARI

PENILAIAN KINERJA GURU DI SMPN 6 KENDARI

 

  1. I.       PENDAHULUAN
  2. A.    Latar Belakang

Siswa dan guru  merupakan  dua komponen penting dan utama yang tidak dapat dipisahkan dalam sistem pendidikan. Apabila satu komponen tidak ada maka pendidikan tidak akan berlangsung. Oleh karena kerjasama antara guru dan siswa sangat dibutuhkan guna mencapai tujuan yang sama. Kualitas sekolah tidak akan berubah apabila kualitas gurunya tidak berubah.

Untuk mengetahui kualitas guru dibutuhkan adanya sistem penilaian kinerja bagi guru yang baik. Banyak ditemui di lapangan bahwa kadangkala penilaian yang dilakukan oleh pengawas dan kepala sekolah dianggap tidak penting. Hasil  penilaian pun tidak dapat mempengaruhi kinerja guru setelah itu. Namun banyak juga guru sengaja memperlihatkan hal-hal yang pada saat prosessupervisi tetapi setelah itu kembali lagi seperti biasanya.

Diperlukan adanya suatu sistem penilaian dalam bidang pendidikan yang benar-benar dapat menilai kinerja guru. Dimana supervisor baik itu guru atau kepala sekolah dapat melakukan penilaian yang baik terhadap guru. Oleh karena itu  mereka harusmemiliki kompetensi tersebut dalam evaluasi pendidikan.

  1. B.      Rumusan Masalah

Bagaimana penilaian kinerja guru di SMPN 6 Kendari ?

  1. C.       Tujuan Penulisan Paper

Untuk mengetahui penilaian kinerja guru di SMPN 6 Kendari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. II.    TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.       Teknik Penilaian
    1. 1.   Merit Rating ( Menggunakan Peringkat

Evaluasi dengan merit rating menuntut para manager menilai pegawainya berdasarkan berbagai faktor (mencakup elemen seperti pengetahuan akan tugas pekerjaan yang dihadapi, output yg efektif, pengambilan keputusan dam akuransi kerja) ataupun karakteristik (kepribadian dapat mencakup aspek-aspek seperti percaya diri, sikap, perilaku, inisiatif dan konsistensi) pekerjaan dan/atau kepribadian secara objektif. Sistem  ini menuntut para manajer untuk memberikan penilaian kepada staf mereka untuk tiap faktor dalam suatu skala angka 1-5. Skala ini akan didefinisikan dengan suatu deskripsi singkat yang diberikan terhadap level yang berbeda.

Keunggulan dari merit rating yaitu memudahkan para manager ( kepsek) untuk memberikan penilaian kepada staf mereka. Kelemahannya  tidak terlalu membantu dalam menggeneralisasi dan gagala menetapkan standar yang sesungguhnya dapat dipakai untuk membuat suatu penilaian. Kelemahan tersebut, yaitu :

–          Tidak dapat memberikan kepastian bahwa mereka yang menilai akan memberikan penilaiannya didasarkan pengamatan yang sistematis dan objektif terhadap perilaku kerja orang yang mereka nilai.

–          Ketidakpercayaan akan validitas sistem itu sendiri.

–          Tidak suka mengkritik bawahan secara langsung  serta Ketidakmampuan untuk menangani evaluasi dan wawancara.

–          Ketidaksukaan akan suatu prosedur yg baru.

  1. 2.         MBO ( Manajemen Berorientasi Sasaran )

Menurut Peter Drucker MBO adalah “Sistem yang dinamis untuk mengintegrasikan kebutuhan yang dinamis dengan kebutuhan institusi dalam mencapai keuntungan dan pengembangan visi dan usaha dengan kebutuhan karyawan untuk mengembangkan potensi dan tanggung jawab pribadi”.

Pendekatan ini harus memastikan adanya integrasi antara sasaran individu dan perusahaan. Kemudian pendekatan ini akan menghapus ketidakeffektifan dan kesalahan arah yang disebut sebagai manajemen berdasarkan “ crisis and drives”. Pendekatan ini juga memungkinkan para manajer untuk mengendalikan kinerjanya sendiri : pengendalian diri berarti motivasi yang kuat : suatu dorongan untuk melakukan yang terbaik dan bukan hanya sekedar cukup agar tugas terlaksana saja ( berarti target kinerja yang tinggi dan visi yang lebih luas.

  1. 3.      Penilaian Kinerja  Kinerja dan Manajemen Kinerja

Kadang-kadang diasumsikan bahwa penilaian kinerja adalah hal yang sama seperti manajemen kinerja. Tetapi ada perbedaan yang signifikan.
Penilaian kinerja dapat didefinisikan sebagai penilaian formal dan peringkat individu oleh manajer mereka pada, biasanya, sebuah pertemuan kajian tahunan.

Sebaliknya manajemen kinerja adalah proses yang berkesinambungan dan lebih luas, lebih komprehensif dan lebih alami dari manajemen yang menjelaskan harapan bersama, menekankan peran dukungan manajer yang diharapkan untuk bertindak sebagai pelatih daripada hakim dan berfokus pada masa depan.

Berikut adalah tabel perbedaan antara penilaian kinerja dan manajemen kinerja.

 

Tabel 2.1 Perbedaan Penilaian Kinerja dan manajemen Kinerja

PENILAIAN KINERJA (PERFORMANCE APPRAISAL)

MANAJEMEN KINERJA (PERFORMANCCE MANAGEMENT)

Top-down penilaian
Pertemuan Tahunan penilaian
Penggunaan Rating peringkat
Sistem Monolitik
Fokus pada tujuan dihitung
Sering dikaitkan dengan membayar
Birokrasi – dokumen kompleks
Dimiliki oleh departemen HR
Bersama proses melalui dialog

Telaah ulang dengan satu atau lebih banyak lagi tinjauan formal
Ratings kurang umum
Proses Fleksibel
Fokus pada nilai-nilai dan perilaku serta tujuan
Kurang mungkin link langsung untuk membayar

Dokumentasi dijaga agar tetap minimum
Dimiliki oleh manajer lini

 

 

Manajemen kinerja dalam bentuknya yang paling berkembang dapat disimpulkan sebagai berikut:

–          Dipandang  sebagai suatu pengintegrasian proses sasaran organisasi, fungsi, kelompok dan tujuan individu yang menghubungkannya secara lebih erat dengan aspek lainnya dari manajemen sumberdaya manusia.

–          Diperlukan sebagai suatu proses manajemen yang normal, bukan suatu tugas administratif yang dipaksakan oleh departemen personalia.

–          Menyangkut semua anggota organisasi sebagai mitra dalam proses tersebut-bukan merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh atasan kepada bawahannya.

–          Didasarkan kepada kesepakatan mengenai akuntabilitas, harapan kerja dan rencana pengembangan, serta dipandang sebagai  bagian dari proses interaksi normal di antara para manajer, individu dan anggota tim.

–          Menyangkut bukan hanya kinerja individu, tetapi juga kinerja tim.

–          Mengukur dan mengevaluasi kinerja dengan mengacu kepada faktor input/proses (pengetahuan, keahlian, kepiawaian dan kompensasi) dan factor output/akibat (hasil dan kontribusi).

–          Sebagai suatu proses yang berkesinambungan, bukan hanya mengandalkan kepada suatu evaluasi formal sekali setahun. ‘Dalam  dunia yang bergerak begitu cepat di masa kini, pemikiran bahwa suatu manajemen kinerja yang efektif dapat dikaitkan dengan sebuah tanggal tertentu dalam satu tahun adalah sangat tak masuk akal’.

–          Memperlakukan evaluasi kinerja sebagai suatu proses bersama yang menekankan kepada pandangan yang membangun ke masa depan-istilah ‘appraisal’ dengan konotasi ‘dari tinggi ke rendah’ kurang bisa digunakan.

–          Difokuskan kepada peningkatan kinerja, mengembangkan kompetensi dan memanfaatkan potensi.

–          Dapat memberikan dasar bagai keputusan untuk penentuan gaji/upah berdasarkan kinerja kalau sistem itu dipergunakan, tetapi dengan lebih memeperhatikan pengembangan dari sebuah sistem penentuan nilai (rating system) dan bagaimana mencapai suatu konsistensi dalam memeberikan penilaian (rating).

–          Mungkin tidak akan menyertakan suatu sistem rating sama-sekali kalau proses itu dipergunakan untuk tujuan pengembangan dan perbaikan kinerja.

–          Tidak mengandalkan kepada formulir dan prosedur yang rumit. Catatan mengenai kesepakatan serta hasil evaluasi dapat dipegang oleh para manajer dan karyawan dan bahkan kadang-kadang tidak berada di tangan departemen personalia.

–          Perlunya pelatihan agar memeiliki keahlian yang diperlukan untuk menentukan kesepakatan, memberikan umpan balik, mengevaluasi kinerja dan membimbing serta memberikan konseling kepada para karyawan.secara keseluruhan lebih mementingkan proses menentukan sasaran, mengelola kinerja sepanjang tahun dan memantau serta mengevaluasi hasil ketimbang isi dari apa yang seringkali disebut sebagai ‘sistem manajemen kinerja’ yang implikasinya adalah seperangkat mekanisme agar orang mengerjakan sesuatu dengan cara tertentu (Surya Dharma: 2011).

 

  1. B.     Kompetensi Kepala Sekolah
  2. C.    Kompetensi Pengawas Sekolah
  3. D.    Kompetensi dan Peranan  Guru
  4. E.     Kinerja Guru

Kinerja adalah Hasil kerja yang dicapai seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi sesuai wewenang dan tanggung jawabnya masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan (Ahmad Sudrajat, posted 17 April 2010). Sedangkan Hadari Nawawi, 1996 dalam Agus Rubiyanto 2010 mengartikan kinerja sebagai prestasi seseorang dalam suatu bidang atau keahlian tertentu, dalam melaksanakan tugasnya atau pekerjaannya yang dideleasikan dari atasan dengan efektif dan efisien.

Sedangkan guru adalah sebuah profesi, sebagaimana profesi lainnya yang merujuk pada pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan (Umiarso dan Imam Gojali: 2010). Dalam UU No. 14 Tahun 2005  Tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Selanjutnya guru adalah seorang tenaga kependidikan berbeda pekerjaannya dengan yang lainnya, karena ia merupakan suatu profesi, maka dibutuhkan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan tugas dan fungsinya (Tabrani Rusyan:1990 dalam Agus Rubiyanto: 2010).

Penilaian kinerja guru dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah untuk meningkatkan kinerja dan proses pembelajaran. Pelaksanaan kinerja atau yang disebut dengan supervisi akademik adalah merupakan kegiatan terencana yang ditujukan pada aspek kualitatif sekolah dengan membantu guru melalui dukungan dan evaluasi pada proses belajar dan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar.

  1. 1.   Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru

Teori dasar yang digunakan sebagai landasan untuk menilai kualitas kinerja guru menurut T.R. Mithcell (1978) yaitu:

 

Performance = Motivation x Ability

 

 

 

 

 

Dari formula tersebut dapat dikatakan bahwa, motivasi dan abilitas adalah unsur-unsur yang berfungsi membentuk kinerja guru dalam menjalankan tugasnya sebagai guru.

  1. a.      Motivasi

Motivasi memiliki pengertian yang beragam baik yang berhubungan dengan perilaku individu maupun perilaku organisasi. Motivasi merupakan unsur penting dalam diri manusia yang berperan mewujudkan keberhasilan dalam usaha atau pekerjaan individu. Analisis tugas adalah suatu proses pengukuran sikap pegawai dan penetapan tingkat pentingnya pekerjaan untuk menetapkan keputusan konpen-sasi.

Berdasarkan pendekatan di atas, maka di kalangan para guru, jabatan guru dapat dipandang secara aplikatif sebagai salah satu cara dalam memotivasi (pemotivasi) para guru untuk meningkatkan kemampuannya.

  1. b.     Abilitas

Abilitas adalah faktor yang penting dalam meningkatkan produktivitas kerja, abilitas berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki individu. Abilitas seseorang dapat dilihat dari skill yang diwujudkan melalui tindakannya.

  1. c.        Kinerja

Kinerja atau unjuk kerja dalam konteks profesi guru adalah kegiatan yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran/KBM, dan melakukan penilaian hasil belajar. Hubungan alur kinerja, motivasi, dan abilitas guru dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Kemampuan Guru:

  • Perencanaan Pembelajaran
  • Pelaksanaan Pembelajaran/KBM
  • Melakukan penilaian hasil pembelajaran (Kinerja Guru)

Pelaksanaan Jab.Fungs.Guru. (Pemotivasian Guru)

Skill/Ketr yang dikuasai Guru. (Abilitas Guru)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.1 Alur Kinerja, Motivasi dan Abilitas Guru

(PMPTK : 2008)

  1. F.     Indikator Penilaian Kinerja guru
  2. 1.      Indikator Kinerja Guru

Berkenaan dengan kepentingan penilaian terhadap kinerja guru. Georgia Departemen of Education telah mengembangkan teacher performance assessment instrument yang kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Alat penilaian kemampuan guru, meliputi: (1) rencana pembelajaran (teaching plans and materials) atau dise-but dengann RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), (2) prosedur pembelajaran (classroom procedure), dan (3) hubungan antar pribadi (interpersonal skill).

Indikator penilaian terhadap kinerja guru dilakukan terhadap tiga kegiatan pembelajaran dikelas yaitu:

  1. a.   Tahap perencanaan

Dalam kegiatan pembelajaran tahap perencanaan adalah tahap yang berhubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar. Kemampuan guru dapat dilihat dari cara atau proses penyusunan program kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yaitu mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Unsur/komponen yang ada dalam silabus terdiri dari:

  1. Identitas Silabus
    1. Stándar Kompetensi (SK)
    2. Kompetensi Dasar (KD)
    3. Materi Pembelajaran
    4. Kegiatan Pembelajaran
    5. Indikator
    6. Alokasi waktu
    7. Sumber pembelajaran

Pembelajaran jangka waktu singkat sering dikenal dengan sitilah RPP, yang merupakan penjabaran lebih rinci dan specifik dari silabus, ditandai oleh adnya komponen-komponen :

  1. Identitas RPP
    1. Stándar Kompetensi (SK)
    2. Kompetensi dasar (KD)
    3. Indikator
    4. Tujuan pembelajaran
    5. Materi pembelajaran
    6. Metode pembelajaran
    7. Langkah-langkah kegiatan

 

  1. Sumber pembelajaran
  2. Penilaian
    1. b.      Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran di kelas adalah inti penyelenggaraan pendidikan yang ditandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, dan penggunaan metode serta strategi pembejaran. Semua tugas tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab guru yang secara optimal dalam pelaksanaanya menuntut kemampuan guru.

  1. 1.    Pengelolaan Kelas

Kemampuan menciptakan suasana kondusif di kelas guna mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan adalah tuntutan bagi seorang guru dalam pengelolaan kelas. Kemampuan guru dalam memupuk kerjasama dan disiplin siswa dapat diketahui melalui pelaksanaan piket kebersihan, ketepat-an waktu masuk dan keluar kelas, melakukan absensi setiap akan memulai proses pembelajaran, dan melakukan pengaturan tempat duduk siswa. Kemampuan lainnya dalam pengelolaan kelas adalah pengaturan ruang/setting tempat duduk siswa yang dilakukan pergantian, tujuannya memberikan kesempatan belajar secara merata kepada siswa.

2. Penggunaan Media dan Sumber Belajar

Kemampuan lainnya dalam pelaksanaan pembelajaran yang perlu dikuasi guru di samping pengelolaan kelas adalah menggunakan media dan sumber belajar. Kemampuan menguasai sumber belajar di samping mengerti dan memahami buku teks, seorang guru juga harus berusaha mencari dan membaca buku-buku/sumber-sumber lain yang relevan guna meningkatkan kemampuan terutama untuk keperluan perluasan dan pendalaman materi, dan pengayaan dalam proses pembelajaran.

Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar tidak hanya meng-gunakan media yang sudah tersedia seperti media cetak, media audio, dan media audio visual. Tatapi kemampuan guru di sini lebih ditekankan pada penggunaan objek nyata yang ada di sekitar sekolahnya.

3. Penggunaan Metode Pembelajaran

Kemampuan berikutnya adalah penggunaan metode pembelajaran. Guru diharapkan mampu memilih dan menggunakan metode pembelajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Karena siswa memiliki interes yang sangat heterogen idealnya seorang guru harus menggunakan multi metode, yaitu memvariasikan penggunaan metode pembelajaran di dalam kelas seperti metode ceramah dipadukan de-ngan tanya jawab dan penugasan atau metode diskusi dengan pemberian tugas dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan untuk menjembatani kebutuhan siswa, dan menghindari terjadinya kejenuhan yang dialami siswa.

c. Evaluasi/Penilaian Pembelajaran

Penilaian hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pem-belajaran yang telah dilakukan. Pada tahap ini seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan, dan penggunaan hasil evaluasi.

  1. 2.   Indikator Abilitas Guru

Abilitas dapat dipandang sebagai suatu karakteristik umum dari seseorang yang berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan melalui tindakan. Abilitas seorang guru secara aplikatif indikatornya dapat digambarkan melalui delapan keterampilan mengajar (teaching skills), yakni:

aKeterampilan Bertanya (Questioning skills)

Dalam proses pembelajaran, bertanya memainkan peranan penting, hal ini dikarenakan pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik melontarkan pertanyaan yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap siswa.

b.   Keterampilan Memberi Penguatan (Reinforcement Skills)

Penguatan adalah segala bentuk respon apakah bersifat verbal (diung-kapkan dengan kata-kata langsung seperti: bagus, pintar, ya, betul, tepat sekali, dan sebagainya), maupun nonverbal (biasanya dilakukan dengan gerak, isyarat, pendekatan, dan sebagainya) merupakan bagian dari modifikasi ting-kah laku guru terhadap tingkah laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi siswa atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan atau koreksi.

c.   Keterampilan Mengadakan Variasi

Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi pembelajaran yang ditujukan untuk mengatasi kejenuhan siswa, sehingga dalam situasi belajar mengajar, siswa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.

d.   Keterampilan Menjelaskan (Explaning skills)

Keterampilan menjelaskan dalam pembelajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan lainnya, misalnya sebab dan akibat. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok

e.   Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran (Set Induction and Closure Skills)

Membuka pelajaran (set insuction) adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun perhatiannnya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya, sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang posi-tif terhadap kegiatan belajar. Menutup pelajaran (closure) adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh sis-wa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelajaran.

f.    Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan kelompok siswa dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan dan pemacahan masalah. Siswa berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil di bawah bimbingan guru atau temannya untuk berbagi informasi, pemecahan masalah atau pe-ngambilan keputusan.

g.   Keterampilan Mengelola Kelas

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran, seperti penghentian perilaku siswa yang memindahkan perhatian kelas, memberikan ganjaran bagi siswa yang tepat waktu dalam dalam menyelesaikan tugas atau penetapan norma kelom-pok yang produktif.

h.   Keterampilan Pembelajaran Perseorangan

Pembelajaran ini terjadi bila jumlah siswa yang dihadapi oleh guru terbatas yaitu antara 3-8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan.

 

3.   Instrumen Penilaian Kinerja Guru

Terdapat berbagai model instrumen yang dapat dipakai dalam penilaian kinerja guru. Namun demikian, ada dua model yang paling sesuai dan dapat digunakan sebagai instrumen utama, yaitu skala penilaian dan (lembar) observasi. Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain (individu) melalui pernyataan perilaku dalam suatu kontinum atau kategori yang memiliki makna atau nilai. Kategori dibuat dalam bentuk rentangan mulai dari yang tertinggi sampai terrendah. Rentangan ini dapat disimbolkan melalui huruf (A, B, C, D) atau angka (4, 3, 2, 1), atau berupa kata-kata, mulai dari tinggi, sedang, kurang, rendah, dan sebagainya.

Observasi merupakan cara mengumpulkan data yang biasa digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan Yang dapat diamati baik dalam situasi yang alami (sebenarnya) maupun situasi buatan. Tingkah laku guru dalam mengajar, merupakan hal yang paling cocok dinilai dengan observasi. Tentu saja penilai harus terlebih dahulu mempersiapkan lembaran-lembaran yang berisi aspek-aspek yang hendak dinilai. Dalam lembaran tersebut terdapat kolom di sebelah aspek yang hendak dinilai, di mana penilai dapat memberikan catatan atau penilaian mengenai kuantitas dan/atau kualitas aspek yang dinilai. Penilaian dapat diberikan dalam bentuk tanda cek ().

Lembar penilaian observasi juga dapat dibuat dalam bentuk yang tidak terstruktur. Maksudnya penilai (observer) tidak memberikan tanda cek, namun menuliskan catatan mengenai kondisi aspek yang diamati. Hal ini biasanya dilakukan apabila hal-hal yang diamati memang belum dapat dipastikan seperti apa dan bagaimana kemunculannya. Sebagai contoh, penilaian terhadap kemampuan seorang guru baru dalam mengelola kelas. Meskipun kisi-kisi pengelolaan kelas telah jelas, akan tetapi bisa saja guru baru yang dinilai tersebut memunculkan perilaku yang tidak terprediksi dalam menghadapi para siswa di kelas.  Hal ini dilakukan terutama bila penilai menggunakan pendekatan kualitatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. VISI, MISI DAN TUJUAN SMKN 4  YOGYAKARTA

 

  1. A.        Visi dan  Misi

 

Visi : Menjadi lembaga pendidikan dan latihan yang berkualitas, kreatif, inovatif, berwawasan global, responsif terhadap lingkungan dan iptek dengan berazaskan imtaq.

Misi : Menghasilkan tamatan yang :

– Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.

– Professional dan siap menghadapi tantangan global, serta mampu bersaing dalam perkembangan IPTEK.

– Kreatif, Inovatif dan berjiwa wirausaha sehingga mampu menciptakan lapangan kerja

– Kompeten sehingga dapat terserap di dunia kerja dan industri

– Berpotensi  untuk mengikuti pendidikan lanjut

– Berwawasan dan peduli terhadap lingkungan

 

  1. B.        Tujuan SMKN 4 Yogyakarta

 

–       Menyiapkan siswa /tamatan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia

–       Menyiapkan siswa /tamatan yang professional dan siap menghadapi tantangan global, serta mampu bersaing dalam perkembangan IPTEK

–       Menyiapkan siswa /tamatan yang  kreatif, inovatif dan berjiwa wirausaha sehingga mampu menciptakan lapangan kerja

–       Menyiapkan siswa /tamatan yang kompeten sehingga dapat terserap di dunia kerja dan industri

–       Menyiapkan siswa /tamatan yang  berpotensi  untuk mengikuti pendidikan lanjut

–       Menyiapkan siswa/ tamatan yang berwawasan dan peduli terhadap lingkungan

  1. IV.             PEMBAHASAN

 

  1. A.    Sistem Evaluasi Kinerja Guru di SMKN 4 Yogyakarta

Dalam pelaksanaaan supervisi akedemik, SMKN 4 Yogyakarta masih menggunakan sistem merit-rating untuk penilaian kinerja guru. Penilaian dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah. Salah satunya adalah melalui supervisi klinis dalam pembelajaran.

Evaluasi dengan merit-rating menuntut supervisor menilai guru sebagai bawahan berdasarkan berbagai faktor maupun karakteristik pekerjaan dan/atau kepribadian secara objektif. Faktor pekerjaan mencakup pengetahuan akan tugas guru yaitu memiliki kemampuan (ability) dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran serta penilaian hasil pembelajaran.  Hal ini dapat dilihat dalam instrumen penilaian kemampuan guru mencakup kemampuan dalam merencanakan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, membuka dan menutup pembelajaran, pelaksanaan variasi pembelajaran, stimulus pembelajaran, keterampilan bertanya serta memberikan penguatan.

Merit-rating sebagai teknik yang telah digunakan oleh supervisor  yaitu penilaian kepada guru dengan skala 0-4  dalam Instrumen Penilaian Kemampuan Guru (IPKG) oleh Dirjen PMPTK tahun 2008. Skala tersebut memiliki arti :

Nilai 4 jika semua deskriptor tampak;

Nilai 3 jika hanya 3 deskriptor tampak;

Nilai 2 jika hanya 2 deskriptor tampak;

Nilai 1 jika hanya 1 deskriptor tampak;

Nilai 0 jika tidak ada deskriptor tampak.

 

  1. B.     Upaya Mengurangi Kegagalan UN di SMKN 4 Yogyakarta

Tingkat kelulusan siswa SMK 4 Yoyakarta adalah 87,9%. Artinya sekolah ini dapat dikatakan berhasil walaupun gagal meluluskan 100%. Kegagalan  tersebut   merupakan kegagalan institusi yang di dalamnya ada guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang paling bertanggung jawab atas kegagalan ini. Guru sebagai ujung tombak pendidikan, dalam hal ini yang harus dipertanyakan adalah; Apakah proses pembelajaran serta materi yang diajarkan   di kelas telah sesuai dengan standar isi dan standar proses yang telah ditentukan? Bagaimana dengan metode pembelajarannya ?   Untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas kepala sekolah dan pengawas sekolah harus melakasanakan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki, yaitu kompetensi supervisi akademik

Dalam rangka mengurangi  kegagalan dalam ujian nasional maka SMKN 4 Yogyakarta sebagai satuan pendidikan telah melakukan upaya sebagai berikut                            :

  1. Lebih meningkatkan proses pembelajaran untuk mata pelajaran yang di UN kan,
  2. Mengadakan bimbingan belajar di luar jam wajib sekolah,
    1. Mengadakan try out / uji coba untuk soal-soal yang sesuai dengan soal-soal UN,
    2. Materi yang diajarkan harus sesuai dengan kisi-kisi/standar kelulusan (SKL) yang mengacu pada soal-soal UN,

Selain beberapa hal yang perlu dilakukan oleh sekolah sebagai institusi, Pengawas Sekolah, Kepala sekolah serta guru harus dapat berkolaborasi dalam meningkatkan kelulusan siswa yaitu dengan melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing-masing sesuai dengan aturan yang berlaku semaksimal mungkin, agar kelulusan siswa-siswi dalam ujian nasional adalah benar-benar karena prestasi dan kompetensi, sehingga bila siswa-siswi yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi  tidak akan menghadapi kendala dalam mengikuti UMPTN.

 

  1. C.    Pelaksanaan Supervisi Akademik Model Klinis untuk Menilai guna Meningkatkan Kinerja Guru dalam Pembelajaran di SMKN 4 Yogyakarta

Dalam melaksanakan tugasnya, kepala sekolah  dan pengawas sekolah harus memiliki kompetensi Supervisi Akademik. Dengan kompetensi tersebut setidaknya kepala sekolah akan membantu guru dalam meningkatkan kinerjanya dalam proses pembelajaran. Adapun tugas pokok kepala sekolah berkenaan dengan supervisi akademik adalah : (1) merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, (2) melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan supervisi yang tepat, (3) menindak lanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

Kompetensi Supervisi Akademik yang dimiliki oleh pengawas sekolah adalah : (1) memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan tiap mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah kejuruan, (2) memhami konsep, prinsip, teori/tknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah kejuruan, (3) membimbing guru dalam menyususn silabus tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah kejuruan berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan konpetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP, (4) membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui mata pelajaran-mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah kejuruan, (5) membimbing guru dalam mennyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah kejuruan, (6) membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium, dan atau di lapangan) untuk tiap mata dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah kejuruan, (7) membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah kejuruan, (8) memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah kejuruan.

Dengan kompetensi supervisi akademik yang dimiliki oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah, pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi adalah pendekatan supervisi klinis.

Focus penyelenggaraan supervise klinis adalah therapeutic profession, dengan dua kegiatan utama yaitu mengelola kasus pembelajaran dan melatih kembali pihak yang disupervisi. Dengan dua kegiatan tersebut diharapkan pihak yang disupervisi akan tumbuh dan memahami dan adanya kesadaran diri untuk memperbaiki proses pembelajaran. Supervisi klinis yang mementingkan pada pelaksanaan hubungan kologial antara yang melakukan supervisi dengan yang disupervisi maka tujuannya adalah untuk menganalisa dan memodifikasi perilakunya sendiri.

Dengan demikian tujuan supervisi klinis adalah mengelola kasus dengan mengidentifikasi kasus yang telah terjadi dalam interaksi pembelajaran yang telah dijalankan oleh guru, melakukan analisis dan selanjutnya melakukan perbaikan misalnya melakukan pembinaan, maupun workshop pelatihan untuk memperbaikinya  atau secara sederhana dapat dimengerti bahwa tujuan supervisi klinis adalah mendasain cara-cara peningkatan kinerja guru dalam kelas melalui analisi terhadap peleksanaan pembelajaran sebelumnya. Akhirnya guru didorong harus sencara mandiri melakukan perbaikan kinerjanya sendiri melalui analisis yang dilakukan secara sendiri. Selanjutnya guru tahu tentang bagaimana mengajar benar, dapat melakukannya, mau menerapkan pengetahuan kaidah pedagogik dalam pelaksanaan pembelajaran.

Di bawah ini digambarkan bagaimana proses supervisi klinis di laksanakan di sekolah. Proses supervisi di sekolah didasarkan pada premis yang dinyatakan di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah I  Pertemuan Pra-pengamatan

Pengawas berusaha untuk menjelaskan pada guru kegiatan spesifik di kelas.  Berunding dengan guru untuk membangun saling pengertian dan kemudahan komunikasi, sehinga kunjungannya dapat diterima dan tidak menakutkan.  Ia dapat mendiskusikan dan memutuskan hal di bawah ini dengan guru, yaitu bagaimana butir-butir di bawah ini akan dilihat:

  1. Metode pembelajaran.
  2. Pengelolaan kelas.
  3. Situasi belajar dan pembelajaran
  4. Suasana kedisiplinan/disipliner kelas
  5. Presentasi pelajaran.
  6. Reaksi siswa.
  7. Tugas menulis siswa
  8. Penggunaan alat bantu audio visual dan  alat bantu pembelajaran lainnya.

Langkah-II   Pengamatan.

Setelah melakukan pertemuan sebelumnya serta berdiskusi dengan guru, pengawas harus memutuskan hal-hal yang harus diamati dari kejadian-kejadian yang ada, misalnya:

  1. Apakah guru secara konsisten mendominasi kelas sepanjang waktu?
  2. Apakah ia melibatkan kelas dalam proses?
  3. Seberapa banyak ia menggunakan papan tulis?
  4. Apakah metodenya efektif?
  5. Apakah tayangan dalam alat bantu audio visual dan alat bantu pembelajaran lainnya relevan dengan materi ajar?
  6. Seberapa banyak pembelajaran nyata terjadi di dalam kelas?

Selama pengamatan, pengawas mencatat butir petunjuk konstruktif dan positif, yang nantinya akan didiskusikan dengan guru.

Langkah-III  Analisis hasil pengamatan

Pengawas mengorganisasi data pengamatan ke dalam bidang/mata pelajaran yang jelas untuk umpan balaik pada guru.  Pengawas kemudian membuat analisis yang menyeluruh/komprehensif pada data yang ada untuk menafsirkan hasil pengamatannya.  Jika ini merupakan proses daur ulang, maka ia menentukan apakah dibutuhkan perubahan yang menyeluruh.  Jika demikian, apakah mereka memiliki pengaruh yang diinginkan terhadap bidang yang menjadi minatnya.

Berdasarkan analisisnya, maka pengawas kemudian mengidentifikasi perilaku pembelajaran yang positif, yang harus dipelihara dan perilaku negatif yang harus dirubah, agar dapat menyelesaikan/menanggulangi masalah.

Langkah-IV Pertemuan setelah pengamatan

Data yang telah dianalisis ditunjukkan pada guru.  Umpan balik diberikan sedemikian sehingga guru dapat memahami temuan, mengubah perilaku yang teridentifikasi dan mempraktekkan panduan yang diberikan. Penerimaan dan internalisasi merupakan capaian terbaik.  Hal ini terjadi apabila hubungan antara guru dengan pengawas dapat digolongkan ke dalam sifat kooperatif dan kolegalitas yang tidak mengancam.  Hubungan yang bersahabat merupakan hubungan yang banyak manfaatnya, karena keduanya akan banyak memperoleh manfaaat dengan bekerja bersama.  Hubungan mereka harus menunjukkan :

  1. Kepercayaan timbal balik terhadap kemampuannya masing-masing.
    1. Kepercayaan/ketergantungan satu sama lain sebagai bentuk pertolongan/bantuan konstruktif
    2. Pendirian untuk saling bekerja sama menuju tujuan bersama.

Dari umpan balik pengawas dan dukungan pada guru, maka dapat ditentukan bersama:

  1. Perilaku positif pembelajaran yang harus dipelihara.
  2. Strategi-strategi alternatif untuk mencapai perubahan yang diinginkan.
    1. Kelayakan/kepantasan dari menggunakan kembali metode yang pernah dilakukan.

Asumsinya adalah apabila perilaku guru berubah, maka permasalahan spesifik dalam bidang  yang menjadi perhatian akan dapat diselesaikan. Selain langkah-langkah dalam proses supervisi di atas, seorang pengawas harus membuat/memiliki  instrument (daftar kendali) sebagai alat control mengevaluasi situasi nyata       yang terjadi didalam kelas atau di sekolah.  Hasil ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan oleh seorang pengawas, seperti rencana pembelajaran bagi  guru.  Adapun alat control yang ahrus disiapkan antara lain.

  1. Daftar kendali untuk kunjungan ke sekolah
  2. Daftar kendali untuk kunjungan kelas
  3. Daftar Cek Pengamatan Presentasi Pelajaran.
  4. Checklist Review dan Supervisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. V.    PENUTUP

 

  1. A.       Kesimpulan
    1. Sistem evaluasi kinerja guru di SMK 4 Yoyakarta adalah Merit-rating.
    2. Pelaksanaan supervise akademik melalui supervise klinis yang dilakukan bertujuan untuk menilai kemampuan guru  guna meningkatkan kinerja guru sehingga dapat meningkatkan jumlah lulusan dan mengatasi kegagalan dalam UN.

 

  1. B.     Rekomendasi

Sistem penilaian kinerja guru melalui supervisi  akademik telah digunakan sebagai bahan pertimbangan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) berikutnya. Hasil evaluasi kinerja guru  ini dimasukkan dalam penyusunan RKS agar tingkat kelulusan pada Tahun Ajaran 2010/2011 dapat meningkat. Terdapat peningkatan setiaptahunnya pada target peningkatan dari Tahun 2010 sampai dengan 2014 pada  standar proses (kegiatan proses pembelajaran yang dinilai berdasarkan supervisi akademik) dan standar kelulusan (Ujian Nasional).

Dalam standar proses pada tahun 2010 target peningkatan adalah 70% menerapkan pembelajaran berbasis TIK (Informasi Teknologi dan Komunikasi) dengan 50% pembelajaran menggunakan bilingualuntuk mata pelajaran produktif, ngual. pembelajaran dengan bilingual pada mata pelajaran produktif, matematika dan IPA.   Kemudian meningkat 85% untuk tahun 2012 pada pembelajaran meggunaan TIK dan 80% pembelajaran bilingual.  Pada tahun 2013 target peningkatan sekolah yaitu 90% menerapkan TIK dalam pembelajaran dengan 100% dalampembelajaran telah menggunakan bilingual untuk mata pelajaran produktif, matematika, dan IPA. Pada tahun kelima, yaitu 2014 ditargetkan 100% pembelajaran telah menggunakan TIK dan pembelajaran dengan menggunakan Bahasa Inggris untuk mata pelajaran produktif, matematika dan IPA .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: